OKAERINASAI MINNA SAN :) "JINSEI WA OKURIMONODEARI, JINSEI WA YORIYOI NINGEN NI NARU TAME NO TOKKEN, KIKAI, SEKININ O WATASHITACHI NI ATAETE KUREMASU"
HIDUP ADALAH SEBUAH PEMBERIAN, DAN HIDUP MEMBERIKAN KITA KEISTIMEWAAN, KESEMPATAN, DAN TANGGUNG JAWAB UNTUK MENJADI SESEORANG YANG LEBIH BAIK :)

Wednesday, 14 December 2016

PENGARUH CURAH HUJAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN GANDUM



PENGARUH CURAH HUJAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN GANDUM ( Tristicum aestivum L. )

PAPER

OLEH :
M. ANSYARI/ 160301135
AGROEKOTEKNOLOGI III - B






L  A  B  O  R  A  T  O  R  I  U  M  A  G  R  O  K  L  I  M  A  T  O  L  O  G  I
P R O G R A M  S T U D I  A G R O E K O T E K N O L O G I
F  A  K  U  L  T  A  S     P  E  R  T  A  N  I  A  N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2  0 1  6
PENGARUH CURAH HUJAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN GANDUM ( Tristicum aestivum L. )

PAPER

OLEH :
M. ANSYARI/ 160301135
AGROEKOTEKNOLOGI III - B

Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memenuhi Komponen Penilaian di Laboratorium Agroklimatologi, Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Diketahui Oleh :
Dosen Penanggung jawab



( Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, M.S )
NIP : 196108311988032004

L  A  B  O  R  A  T  O  R  I  U  M  A  G  R  O  K  L  I  M  A  T  O  L  O  G  I
P R O G R A M  S T U D I  A G R O E K O T E K N O L O G I
F  A  K  U  L  T  A  S     P  E  R  T  A  N  I  A  N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2  0 1  6

KATA PENGANTAR


Puji sukur penulis ucapkan kehairat Tuhan Yang Maha Esa, dimana atas Berkat Rahmat dan KaruniaNya penulis dapat menyelesaikan Paper ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari Paper ini adaah “Pengaruh Curah Hujan Terhadap Pertumbuhan Tanaman Gandum( Tristicum aestivum L. )” yang digunakan sebagai penambahan komponen penilaian di Laboratorium Agroklimatologi, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah Agroklimatologi, yaitu : Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, M.S;           Dr. Nini Rahmawati, SP, M.Si; Dr. Ir. Yaya Hasanah, M.Sc;                                Ir. Lisa Mawarni, M.P; Ir. Irsal, M.P; Ir. T. irmansyah M.P, serta kepada abang dan kakak asisten di laboratorium yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan Paper ini.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar Paper ini lebih baik lagikedepannya. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.


Medan,      November  2016


Penulis

DAFTAR ISI

LAMPIRAN


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gandum (Triticum aestivum L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah subtropis, akan tetapi melalui usaha–usaha manusia dibidang pemuliaan dan budidaya tanaman, penyebaran tanaman gandum mulai meluas ke daerah iklim sedang dan tropis. Pengembangan gandum di Indonesia dimulai sejak Menteri Pertanian dipegang oleh Prof.Dr.Ir.H. Thoyib Hadiwijaya dengan membentuk Tim Inti Uji Adaptasi Gandum pada tahun 1978, lokasi uji coba terletak di Kabanjahe (Sumatera Utara). Benih asal yang digunakan adalah Cimmyt Meksiko dengan produktivitas empat ton/ha dalam bentuk pecah kulit (Dinas Pertanian, 2008).
Pada tahun 2001 pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian merintis pengembangan gandum dalam bentuk demonstrasi area di enam provinsi yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan, dengan menggunakan benih galur asal India dan Cimmyt. Sampai tahun 2003 Ditjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian terus melakukan pengembangan gandum berupa penelitian dan percobaan dalam rangka penyiapan dan perbanyakan sekaligus uji multi lokasi. Hasil yang diperoleh dari usaha pengembangan tersebut cukup menggembirakan dan memperoleh respon yang cukup baik dari petani dan pemerintah daerah. Panen perdana gandum dilakukan pada tahun 2002 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. (Dinas Pertanian, 2008).
Di Indonesia lokasi yang memiliki kondisi iklim yang sesuai untuk pertumbuhan gandum dan telah digunakan sebagai lokasi pengembangan hingga tahun 2008 yaitu Nangro Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan timur, dan  Sulawesi Selatan (Dinas Pertanian, 2008).
Pemanasan global (global warming) telah mengubah kondisi iklim global, regional, dan lokal. Perubahan iklim global disebabkan antara lain oleh peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat berbagai aktivitas yang mendorong peningkatan suhu bumi. Mengingat iklim adalah unsur utama dalam sistem metabolisme dan fisiologi tanaman, maka perubahan iklim global akan berdampak buruk terhadap keberlanjutan pembangunan pertanian (Andriyani, 2009).





Berdasarkan kegunaannya gandum dapat dibedakan menjadi gandum lunak (soft wheat) dan gandum keras (hard wheat), gandum lunak memiliki kadar protein 6–11 persen.  Karena kandungan gluten yang dimiliki rendah maka gandum lunak cocok untuk pembuatan kue–kue kering, biskuit,  crackers, dan sebagainya yang tidak memerlukan daya kembang yang tinggi sehingga dapat memberikan bentuk pada hasil cetakan kue. Gandum keras memiliki kadar protein 11–17 persen dan gluten yang lebih tinggi daripada gandum lunak sehingga dapat menghasilkan tepung gandum yang kuat daya kembangnya dan sangat cocok untuk pembuatan roti.  Selain itu gandum keras warnanya lebih gelap dan tidak memperlihatkan zat pati yang putih seperti gandum lunak (Andriyani, 2009)
Rekayasa iklim mikro penting untuk dilakukan karena pemanasan global menyebabkan berbagai anomali iklim yang berpengaruh terhadap iklim mikro. Dengan mengetahui karakteristik iklim mikro pada berbagai perlakukan rekayasa iklim diharapkan dapat dijadikan dasar bagi pengembangan rekayasa iklim mikro yang lebih lanjut. Sehingga anomali iklim yang terjadi dapat diminimalisasi dengan rekayasa iklim mikro yang tepat (Andriyani, 2009).

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan  yang dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan curah hujan terhadap pertumbuhan tanaman gandum (Triticum aestivum .L)

Kegunaan Penulisan

Sebagai salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di laboratorium Agroklimatologi, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai sumber informasi bagi yang membutuhkan.

 


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

           Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tumbuhan) tanaman Gandum termasuk kedalam, Divisi : Magnoliophyta ; Sub divisi : Spermatophyta;  Kelas : Liliopsida; Ordo : Poales; Famili : Poaceae;  Genus : Triticum; Spesies : (Triticum aestivum . L)

Berdasarkan kegunaannya gandum dapat dibedakan menjadi gandum lunak (soft wheat) dan gandum keras (hard wheat), gandum lunak memiliki kadar protein 6–11 persen.  Karena kandungan gluten yang dimiliki rendah maka gandum lunak cocok untuk pembuatan kue–kue kering, biskuit,  crackers, dan sebagainya yang tidak memerlukan daya kembang yang tinggi sehingga dapat memberikan bentuk pada hasil cetakan kue. Gandum keras memiliki kadar protein 11–17 persen dan gluten yang lebih tinggi daripada gandum lunak sehingga dapat menghasilkan tepung gandum yang kuat daya kembangnya dan sangat cocok untuk pembuatan roti.  Selain itu gandum keras warnanya lebih gelap dan tidak memperlihatkan zat pati yang putih seperti gandum lunak ( Harpenas, 2010).
Seperti tanaman yang lainnya, tanaman gandum mempunyai bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
1. Akar
Menurut (Harpenas, 2010), akar tanaman gandum memiliki dua macam akar yaitu akar kecambah, merupakan akar pertama yang tumbuh dari embrio dan akar adventif yang kemudian tumbuh dari buku dasar. Berbeda dengan akar kecambah yang kemudian mati, akar adventif membentuk sistem perakaran yang perakarannya berada sedalam 10-30 cm di bawah permukaan tanah.


2. Batang
Batang gandum menurut (Hewindati, 2006) Batang tanaman gandum tegak, berbentuk silinder dan membentuk tunas.  Ruas-ruasnya pendek dan buku-bukunya berongga. Pada tanaman dewasa terdiri dari rata-rata enam ruas. Tinggi tanaman gandum atau panjang batang dipengaruhi oleh sifat genetik dan lingkungan tumbuh 3. Daun


3. Daun
             Daun pertama gandum, berongga dan berbentuk silinder, diselaputi plumula yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun. Helaian daun gandum tersusun dalam setiap batang, setiap daun membentuk sudut 1800 dari daun yang satu dengan daun yang lainnya. Daun telinga (auricle) barwarna pucat atau kemerah-merahan. Sedangkan lidah daun tidak berwarna, tipis dan berujung bulu-bulu dan halus (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001).


4. Bunga
Menurut (Hendiwati, 2006), Bunga tanaman gandum berbentuk malai terdiri dari bulir-bulir. Tiap bulir terdiri dari lima buah bunga. Malai tersusun buku dan ruas yang pendek dan menyempit pada pangkal dan ujungnya melebar. Ujung bulir membentuk rambut yang panjang bervariasi (Nasir, 1987 cit., Sudarmini, 2001). Gandum termasuk tanaman yang mengadakan penyerbukan sendiri, kemungkinan penyerbukan silang 1-4 persen.

5. Buah dan Biji
Buah gandum menurut (Anonimc, 2010), Butir gandum (kernel, grain) secara botani adalah buah (caryopsis). Kulit biji berimpit dengan kulit buah. Biji terdiri dari nutfah (germ atau embrio), endosperm, scutellum. dan lapisan aleuron.  Bentuk butir bervariasi dari lonjong bundar sampai lonjong lancip. Biji gandum berwarna merah kecoklat-coklatan, putih dan warna diantara keduanya.

Syarat Tumbuh

Iklim

Pada dasarnya tanaman gandum dapat beradaptasi secara luas dipermukaan bumi, mulai dari dekat khatulistiwa sampai 60°LU dan 40°LS. Daerah-daerah penyebarannya adalah 30-60°LU dan 25-40°LS.  Di Indonesia gandum ditanam di daerah pegunungan diatas 800 meter diatas permukaan laut (dpl). Suhu minimum untuk pertumbuhan adalah 2-4°C, suhu optimum sekitar 20-25°C sedangkan suhu maksimum 37°C. Umumnya tanaman gandum membutuhkan curah hujan minimum 250 mm, curah hujan selama periode hidupnya diperlukan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan. Kebutuhan air bervariasi setiap fase perkembangan tergantung kondisi iklim dan tanah ( Chang, 1968, cit., Sudarmini, 2001). Penggunaan air tanaman ini ditentukan oleh waktu tanam, jumlah benih yang disemai, varietas dan kombinasi diantara faktor-faktor tersebut. Tanaman gandum banyak ditanam pada daerah-daerah dengan kisaran curah hujan 350–1.250 mm.  Curah hujan efektif untuk pertanaman gandum adalah 825 milimeter per tahun akan memberikan produksi yang tinggi, dengan pelaksanaan pergiliran tanaman dan pembuatan saluran irigasi (Anonimous, 2003).

Kekurangan air pada fase  pertumbuhan gandum dapat mempengaruhi hasil akhir yang diperoleh. Periode pertumbuhan yang sangat sensitif terhadap kekurangan air terjadi selama fase pembungaan organ reproduksi dan pembungaan (Santika, 1999).

Komponen iklim terdiri atas temperatur harian, kelembaban dan curah hujan, angin serta cuaca. Syarat iklim yang penting yang harus terpenuhi untuk pertumbuhan tanaman hot beauty atau gandum hibrida lainnya adalah tersedianya Intensitas cahaya yang cukup. (Nawangsih, dkk, 2001).
Suhu paling ideal perkecambahan gandum adalah 25-300C. Untuk pertumbuhannya, tanaman gandum memerlukan suhu 24-280 C. Suhu yang terlalu rendah kan menghambat pertumbuhan tanaman. Selain itu pertumbuhan dan perlembangan bunga dan buah menjadi kurang sempurna (Tarigan dan Wiryanta, 2003).
Tanaman gandum dapat beradaptasi dengan baik pada kelembaban udara yang relatif  rendah.  Di daerah-daerah pegunungan yang ada di Indonesia kelembaban udara rata-rata adalah 90 persen dalam musim hujan dan 80 persen dalam musim kemarau.  Waktu yang paling baik dalam menanam gandum di Indonesia adalah menjelang musim kemarau sehingga fase pematangan jatuh pada musim kemarau, karena pada bulan pertama dan kedua diperlukan air yang merata dan cukup jumlahnya dalam pembentukan tunas dan primordial.  Sedangkan pada bulan ketiga mulai fase pematangan tidak memerlukan banyak air.  Untuk daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur penanaman gandum dimulai bulan Maret sampai dengan bulan Juni dengan curah hujan 643-841 milimeter dan hari hujan 2,8-3,6 hari per bulan, sedang suhu berkisar antara 15,1-20,6°C (Nawangsih, dkk, 2001).
Lama penyinaran (fotoperiodesitas) yang dibutuhkan tanaman gandum antara 10-12 jam penyinaran sehari. Di Indonesia ini akan terpenuhi, karena lama penyinaran di daerah ekuator sekitar 11 jam 56 menit sampai 12 jam 7 menit, sedangkan pada lintang 100 lama penyinaran antara 11 jam 17 menit sampai 11 jan 33 menit. (Anonimous, 2002).





Tanah

Syarat tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman gandum adalah : 1) hara yang diperlukan cukup tersedia 2) tidak ada zat toksik 3) kelembapan mendekati kapasitas lapang 4) suhu tanah rata-rata berkisar 12-28°C 5) aerasi tanah baik dan 6) tidak ada lapisan padat yang menghambat penetrasi akar gandum untuk menyusuri tanah. (Widodo, 2002).

Adaptasi tanaman gandum terhadap jenis-jenis tanah juga sangat luas, akan tetapi jenis tanah yang baik adalah tanah yang dapat menahan air dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan tanaman. Umumnya jenis tanah untuk pertanaman gandum di Indonesia adalah andosol, regosol kelabu, latosol dan aluvial, pH tanah yang baik untuk pertumbuhan gandum adalah berkisar 6,8-7,5 (Tarigan dan Wiryanta, 2003).

Karena penanaman gandum dilakukan pada musim kemarau setelah musim hujan maka tanah diberakan untuk menjaga aerasi tanah.  Pengolahan  dilakukan dua kali yaitu: 1) Pengolahan pertama pencangkulan/pembajakan dengan tujuan menggemburkan tanah dan membasmi gulma;  2) Pengolahan tanah kedua yaitu satu minggu setelah pengolahan pertama, sekaligus pemberian pupuk organik bila diperlukan kemudian tanah dibiarkan selama 7-10 hari. Sebelum penanaman terlebih dahulu dibuat lubang pertanaman dengan cara ditugal, kemudian benih dimasukan 2-3 butir/lubang dan ditutup dengan tanah halus.. (Setiadi, 1989).

Tanah dengan tingkat keasaman rendah (lebih kecil dari 5 skala pH) akan mempengaruhi ketersediaan hara bagi tanaman. Meskipun jumlah huru hara di dalam tanah melimpah, tetapi karena pH terlalu rendah, maka unsur hara tersebut menjadi tidak tersedia bagi tanaman, sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk pertumbuhan. Dalam batas-batas tetentu bahkan akan menimbulkan zat bercun yang merugikan pertumbuhan tanaman secara keseluruhan (Nawangsih, dkk, 2001).

Waktu pemupukan dapat dilakukan sebelum tanam atau pada saat tanam sebagai pupuk dasar.  Pupuk pertama yang harus diberikan adalah TSP dan KCl serta sebagian pupuk N.  Dosis pemupukan dapat ditentukan oleh jumlah hara yang tersedia di dalam tanah.  Jumlah pupuk organik yang biasa digunakan sebanyak 20 ton/ha. Sedangkan pupuk anorganik sebanyak 120 kg N/ha, 45-90 kg P/ha dan 30-60 kg K/ha. Pemberian pupuk urea dapat diberikan 2-3 kali  (Widodo, 2002).






 

 

PENGARUH CURAH HUJAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN GANDUM ( Tristicum aestivum L. )

Pengertian Curah hujan

Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila tidak terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi. Satuan CH adalah mm, inch.
terdapat beberapa cara mengukur curah hujan. Curah hujan (mm) : merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) millimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. Curah hujan kumulatif (mm) : merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut. Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Daerah Prakiraan Musim (DPM).
Sifat Hujan merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1971- 2000). Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) katagori, yaitu :
a. Diatas Normal (AN) : jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya.
b. Normal (N) : jika nilai curah hujan antara 85%--115% terhadap rata-ratanya.
c. Dibawah Normal (BN) : jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap rata-ratanya.
(Tjasyono, 2003 ; Tjasyono, 2006)
Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga. Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula. (Monteith, j. L. 1975).
Jumlah air hujan diukur menggunakan pengukur hujan atau ombrometer. Ia dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan diukur kurang lebih 0.25mm. Satuan curah hujan menurut SI adalah milimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi. Air hujan sering digambarkan sebagai berbentuk "lonjong", lebar di bawah dan menciut di atas, tetapi ini tidaklah tepat. Air hujan kecil hampir bulat. Air hujan yang besar menjadi semakin leper, seperti roti hamburger; air hujan yang lebih besar berbentuk payung terjun. Air hujan yang besar jatuh lebih cepat berbanding air hujan yang lebih kecil. (Handoko, 1993)

Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan orografi dan perputaran pertemuan arus udara. Faktor iklim sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman. Apabila tanaman ditanam di luar daerah iklimnya, maka produktivitasnya sering kali tidak sesuai dengan yang diharapkan. Studi tentang perilaku kejadian tiap organisme atau tumbuhan dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan iklim disebut dengan fenologi. Untuk faktor iklim yang dipergunakan dalam penelitian fenologi pada umumnya adalah curah hujan hal ini adalah karena curah hujan secara langsung atau tidak langsung penting untuk pengaturan waktu dan ruang dalam pembentukan bunga dan buah pada tumbuhan tropis. (Nasir, A, 1990).
Penerimaan curah hujan di permukaan bumi sangat bervariasi menurut tempat dan waktu. Menurut tempat khususnya disebabkan oleh perbedaan letak lintang serta keadaan atmosfer terutama awan ( Handoko, 1994 ).

 

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Curah Hujan

  1. Curah Hujan .
Kepentingan tanaman terhadap besarnya curah hujan sudah dirasakan sejak panen. Adapun titik yang kritis adalah saat pembungaa. Apabila saat pembungaan banyak hujan turun, maka proses pembungaan akan terganggu. Tepung sari menjadi busuk dan tidak mempunyai viabilitas lagi. Kepala putik dapat busuk karena kelembaban yang tinggi. Selain itu,aktivitas serangga penyerbuk juga berkurang saat kelembaban tinggi.apabila trjadi kerusakan pada tepung sari dan kepala puti berarti penyerbukan telah gagal. Hal ini juga berarti bahwa pembuahan dan selanjutnya,panen, telah gagal dan harus menunggu tahun berikutnya (Handoko 1993).
Untuk kepentingan kajian atau praktis, hujan dibedakan menurut terjadinya, ukuran butirannya, atau curah hujannya.
Jenis-jenis hujan berdasarkan terjadinya
1. Hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.
2. Hujan zenithal, yaitu hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator, akibat pertemuan Angin Pasat Timur Laut dengan Angin Pasat Tenggara. Kemudian angin tersebut naik dan membentuk gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuator yang berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah hujan.
3. Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena angin yang mengandung uap air yang bergerak horisontal. Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan.
4. Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut bidang front. Karena lebih berat massa udara dingin lebih berada di bawah. Di sekitar bidang front inilah sering terjadi hujan lebat yang disebut hujan frontal.
5. Hujan muson atau hujan musiman, yaitu hujan yang terjadi karena Angin Musim (Angin Muson). Penyebab terjadinya Angin Muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan Matahari antara Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan. Di Indonesia, hujan muson terjadi bulan Oktober sampai April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi bulan Mei sampai Agustus. Siklus muson inilah yang menyebabkan adanya musim penghujan dan musim kemarau. (Tjasyono, 2006).
Menurut Ashari (2006) sedikitnya ada 2 unsur yang mempengaruhi hal tersebut, yaitu, Curah hujan dan distribusi hujan dan Tinggi tempat dari permukaan laut. (Kondratyev 1969)

Hubungan Curah Hujan Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan orografi dan perputaran pertemuan arus udara. Faktor iklim sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman. Apabila tanaman ditanam di luar daerah iklimnya, maka produktivitasnya sering kali tidak sesuai dengan yang diharapkan.Menurut Sutarno at all (1997) Studi tentang perilaku kejadian tiap organisme atau tumbuhan dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan iklim disebut dengan fenologi. Untuk faktor iklim yang dipergunakan dalam penelitian fenologi pada umumnya adalah curah hujan hal ini adalah karena curah hujan secara langsung atau tidak langsung penting untuk pengaturan waktu dan ruang dalam pembentukan bunga dan buah pada tumbuhan tropis. (Monteith, 1997 )

Selain unsur iklim di atas, Produksi tanaman juga dipengaruhi oleh Radiasi Matahari dan Suhu. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi dalam berbagai cara oleh lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesuai selama pertumbuhan akan merangsang tanaman untuk berbunga dan menghasilkan benih. Kebanyakan speises tidak akan memasuki masa reproduktif jika pertumbuhan vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan yang matang untuk berbunga, sehubungan dengan ini terdapat dua rangsangan. Yang menyebabkan perubahan itu terjadi, yaitu suhu dan panjang hari (Setiadi, 1994).
Diwilayah dengan empat musim, pengaruh suhu berlaku ganda. Pada waktu awal pertumbuhan suhu harus cukup tinggi agar pertumbuhan tidak terhambat. Tetapi bagi kebanyakan tanaman terutama tanaman tahunan, suhu sebelum perubahan fase pertumbuhan itu terjadi sangat penting. Cekaman (stress) air yang diikuti oleh hujan sering merangsang pembungaan tanaman tahunan tropika. Faktor lain yang memicu pembungaan adalah panjang hari, atau panjang periode selama setiap 24 jam. Tanaman berhari pnjang tidak akan berbunga jika ditanam di wilayah tropika (Whitman dan Litcher, 1982).


Kepentingan tanaman terhadap besarnya curah hujan sudah dirasakan sejak panen. Adapun titik yang kritis adalah saat pembungaa. Apabila saat pembungaan banyak hujan turun, maka proses pembungaan akan terganggu. Tepung sari menjadi busuk dan tidak mempunyai viabilitas lagi. Kepala putik dapat busuk karena kelembaban yang tinggi. Selain itu,aktivitas serangga penyerbuk juga berkurang saat kelembaban tinggi.apabila trjadi kerusakan pada tepung sari dan kepala puti berarti penyerbukan telah gagal. Hal ini juga berarti bahwa pembuahan dan selanjutnya,panen, telah gagal dan harus menunggu tahun berikutnya (Ashari 2006).

Pertumbuhan Tanaman Gandum ( Capsicum annum L. )

penanaman gandum dilakukan pada musim kemarau setelah musim hujan maka tanah diberakan untuk menjaga aerasi tanah.  Pengolahan  dilakukan dua kali yaitu: 1) Pengolahan pertama pencangkulan/pembajakan dengan tujuan menggemburkan tanah dan membasmi gulma;  2) Pengolahan tanah kedua yaitu satu minggu setelah pengolahan pertama, sekaligus pemberian pupuk organik bila diperlukan kemudian tanah dibiarkan selama 7-10 hari. Sebelum penanaman terlebih dahulu dibuat lubang pertanaman dengan cara ditugal, kemudian benih dimasukan 2-3 butir/lubang dan ditutup dengan tanah halus. Jarak tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah. Jarak tanam yang sering digunakan adalah 20 x 10 cm, 25 x 10 cm, dan 30 x 10 cm  (Santika 2004).
Waktu pemupukan dapat dilakukan sebelum tanam atau pada saat tanam sebagai pupuk dasar.  Pupuk pertama yang harus diberikan adalah TSP dan KCl serta sebagian pupuk N.  Dosis pemupukan dapat ditentukan oleh jumlah hara yang tersedia di dalam tanah.  Jumlah pupuk organik yang biasa digunakan sebanyak 20 ton/ha. Sedangkan pupuk anorganik sebanyak 120 kg N/ha, 45-90 kg P/ha dan 30-60 kg K/ha. Pemberian pupuk urea dapat diberikan 2-3 kali Soegito & Adie, 1993).

Penyiangan dilakukan 2-3 kali tergantung banyaknya populasi gulma. Penyiangan pertama, kedua dan ketiga dilakukan pada saat tanaman berumur satu bulan, tiga minggu setelah penyiangan pertama dan selanjutnya tergantung pada jumlah populasi gulma. Di Indonesia hama yang menyerang tanaman gandum dan cukup berbahaya adalah Aphhids, Walang sangit, Ulat grayak, Penggerek batang, Sundep dan Nematoda (Setiadi 2006).
Waktu pemupukan dapat dilakukan sebelum tanam atau pada saat tanam sebagai pupuk dasar.  Pupuk pertama yang harus diberikan adalah TSP dan KCl serta sebagian pupuk N.  Dosis pemupukan dapat ditentukan oleh jumlah hara yang tersedia di dalam tanah.  Jumlah pupuk organik yang biasa digunakan sebanyak 20 ton/ha. Sedangkan pupuk anorganik sebanyak 120 kg N/ha, 45-90 kg P/ha dan 30-60 kg K/ha. Pemberian pupuk urea dapat diberikan 2-3 kali  (Sutejo 1998).
Pemupukan lewat daun diberikan dengan cara menyemprotkan pupuk ke daun. Cara ini mempunyai kelebihan yaitu pupuk akan diserap melalui mulut daun atau stomata dengan cepat dan per-tumbuhan tanaman akan meningkat (Lingga, 1998).

Hubungan Curah Hujan  Terhadap Pertumbuhan Tanaman Gandum (Capsicum annum L.)

Radiasi matahari memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kuantitas dan kualitsanya diatur melalui sistem sensor-cahaya (photosensory) yang secara kolektif dapat mengatur proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui pengamanan efisiensi fotosisntesis (Hanganter, 1997). Pertumbuhan tanaman autotropik dipengaruhi oleh intensitas cahaya (diantaranya quantum flux density) yang akan mendorong proses fotosintesis menghasilkan hampir sebagian besar karbon dan energi kimia yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman (Bjorkman, 1981).
Setiap jenis tanaman mempunyai toleransi yang berbeda-beda terhadap intensitas cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik di tempat terbuka, sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat yang ternaungi. Begitu pula tanaman memerlukan intensitas cahaya yang berbeda-beda untuk setiap tahap perkembangannya. Pada waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas yang relatif rendah dan menjelang dewasa mulai memerlukan cahaya dengan intensitas yang lebih tinggi (Faridah, 1995 ; Suhardi, 1995).
Tanaman yang tumbuh pada lingkungan berintensitas cahaya rendah memiliki akar yang lebih kecil, jumlahnya sedikit dan tersusun dari sel yang berdinding tipis. Hal ini terjadi akibat terhambatnya translokasi hasil fotosintesis dari akar. Ruas batang tanaman lebih panjang tersusun dari sel-sel berdinding tipis, ruang antar sel lebih besar, jaringan pengangkut dan penguat lebuh sedikit. Daun berukuran lebih besar, lebih tipis dan ukuran stomata lebih besar, sel epidermis tipis, tetapi jumlah daun lebih sedikit, ruang antar sel lebih banyak. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menurunkan laju fotosintesis hal ini disebabkan adanya fotooksidasi klorofil yang berlangsung cepat, sehingga merusak klorofil. Intensitas cahaya yang terlalu rendah akan membatasi fotosintesis dan menyebabkan cadangan makanan cenderung lebih banyak dipakai daripada disimpan. Pada intensitas cahaya yang tinggi kelembaban udara berkurang,sehingga proses transpirasi berlangsung lebih cepat (Treshow, 1970).
 Biji cabe yang tumbuh dari biji yang diletakan di tempat tidak ada sinar matahari (gelap)  akan tumbuh lebih cepat,memiliki daun kecil dan tipis berwarna kekuning-kuningan,batangnya lemah,dan akarnya tidak banyak,sedangkan kecambah yang tumbuh  dari biji dan diletakan di tempat yang ada sinar matahari akan tumbuh  lebih lambat,memiliki daun yang tumbuh di antara kotiledon,cepat menghijau dan tebal,batangnya kuat,dan akarnya banyak.Hal ini terjadi karena pada daun yang  tidak mendapat sinar matahari  akan mengandung air lebih banyak sedangkan zat gulanya lebih sedikit.Akibatnya jumlah jaringan mesofil meningkat  sehingga  daun yang terbentuk menjadi lebih lebar  dan tipis.Adapun pada daun yang mendapat  sinar matahari  akan mengandung sedikit air  dan jumlah gulanya banyak,akibatnya  akan cepat respirasi  dan fotosintesis,sehingga daunnya akan lebih tebal  menghijau ,jaringan palisadenya  berlapis lapis ,lapisan kutikula menebal sehingga terbentuk daun  yang lebih tebal dan sempit ,berwarna hijau ( Fardiaz, 1992)
     Tumbuhan mempunyai respon yang berbeda beda terhadap periode  penyinaran cahaya matahari,ya ng disebut periodisme .
Berdasarkan respon tumbuhan terhadap periode penyinaran ini dapat dibedakan menjadi: tumbuhan berhari pendek,tumbuhan berhari netral dan tumbuhan berhari panjang. ( Dwijoseputro, 1997 )
a.                      Tumbuhan berhari pendek
Tumbuhan berhari pendek merupakan tumbuhan yang dapat berbunga ketika periode gelap lebih panjang  dari pada pencahayaan.
Misalnya bunga dahlia,aster,strawberi,krisan.
b.                      Tumbuhan berhari netral
Tumbuhan berhari netral merupakan tumbuhan berbunga yang tidak dipengaruhi oleh lamanya/panjangnya hari penyinaran.Misalnya bunga matahari,mawar dan kipas.
c.                       Tumbuhan berhari panjang                                                             
Tumbuhan berhari panjang merupakan tumbuhan yang berbung ketika periode pencahayaan lebih lama /  panjang daripada periode gelap.Misalnya bayam,kentang,dan gandum.





 

KESIMPULAN

1.      Radiasi surya atau matahari adalah sinar yang dipancarkan dari matahari kepermukaan bumi, yang disebabkan oleh adanya emisi bumi dan gas pijar panas matahari
2.      Beberapa faktor yang menentukan besarnya radiasi yang datang adalah tingkat keawanan, tinggi matahari dan kondisi atmosfer. Tingkat keawanan dan tinggi matahari (atau sudut datang matahari) merupakan faktor utama yang menentukan variasi besarnya radiasi yang datang di bumi
3.      Radiasi matahari sangat diperlukan oleh tumbuhan untuk proses metabolisme. Radiasi gamma dari sinar matahari merupakan sinar inframerah yang dapat menghambat laju fotosintesis dan pertumbuhan pada tanaman
4.      Varietas adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pertumbuhan dan hasil tanaman cabai selain faktor lingkungan. Penggunaan varietas unggul merupakan komponen teknologi yang penting untuk mencapai produksi yang tinggi.
5.      Radiasi surya memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman autotropik dipengaruhi oleh intensitas cahaya (diantaranya quantum flux density) yang akan mendorong proses fotosintesis menghasilkan hampir sebagian besar karbon dan energi kimia yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman cabai.







DAFTAR PUSTAKA


Bjorkman, O., 1981. Responses to different quantum. In: Physiological Plant Ecology (O.L. Lange, P.S. Nobel, C.B. Osmand and H. Zioglor, eds.). Part I. Springer-Verlag, Berlin, Heidelberg, others. New York, pp: 57-107.
Dermawan,R dan Asep Harpenas. 2010. Budi Daya Cabai Unggul,Cabai Besar,
Cabai keriting, Cabai Rawit, dan Paprika. Penebar Swadaya: Jakarta.
Dwijoseputro . 1997 .Pengantar Genetika . Jakarta :Bharata .
Fardiaz,Srikandi  . 1992  .Mikrobiologi Pangan  .Jakarta:PT Gramedia Utama.
Faridah E, 1996. Pengaruh intensitas cahaya, mikoriza dan serbuk arang pada pertumbuhan alam rybalanops Sp. Buletin Penelitian, Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta, 29 : 21-28.
Handoko, Hani. 1993. Penilaian Kinerja. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Hanganter, R.P. 1997. Gravity, light and plant form. Plant Cell and Environment, 20 : 796 – 800.
Hewindati, Yuni T. 2006. Hortikultura. Universitas Terbuka. Jakarta
Lingga, P. 1998. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Monteith, J.L. 1977. Climate. In Alvin Paulo de T. and T.T Kozlowski (ed). Ecophysiology of Tropical Crops. New York: Academic Press.
Nawangsih, A.A., H.P. Imdad, dan A. Wahyudi, 2001. Cabai Hot Beauty. Penebar Swadaya, Jakarta. Hlm. 8-15.
Santika, A. 1999. Agribisnis Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Santika, A. 2004. Agribisnis Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Setiadi, 1989. Mikrobiologi Tanah II. Depdikbud Ditjen Dikti, Pusat Antar Universitas Bioteknologi, IPB.
Setiadi. 2006. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Shibles, R. M and C. R. Weber. 1965. Leaf Area, Solar Radiation Interception and
Dry Matter Production by Soybean. Crop. Sci. 5: 575-577.
Soegito & Adie. 1993. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suhardi. 1995. Effect of shading, mycorrizha inoculated and organic matter on the growth of Hopea gregaria seedling. Buletin Penelitian Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta, 28 : 18-27.
Sutejo. 1998. Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Bumi Aksara. Bandung.
Tarigan, S dan W. Wiryanta., 2003 Bertanam Cabai Hibrida Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta, Hal : 16 – 17, 33, 90 – 92.
Tjahjadi, N. 1991. Seri Budidaya Cabai. Kanisius. Yogyakarta. 47 Hal.
Tjasyono, B., 2003, Geosains, ITB
Tjasyono, B., 2006, Ilmu Kebumian dan Entariksa, Rosdakarya, Bandung
Treshow,M. L970. Environtment and Plant
Respont. Mc Graw Hill Company,
New York
Widodo W. 2002. Bioteknologi Fermentasi Susu. Malang. Pusat Pengembangan
Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Malang.

No comments:

Post a Comment